Siapa Dayang Sumbi Dalam Cerita Sangkuriang? Simak Cerita Lengkapnya Berikut Ini

By | May 1, 2022

Legenda Sangkuriang merupakan cerita dongeng yang sangat populer di wilayah Jawa Barat.

Cerita Sangkuriang ini dikenal sebagai kisah asal mula Gunung Tangkuban Perahu.

Dikutip dari ppid.bandung.go.iddiceritakan bahwa Sangkuriang ini jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Dayang Sumbi.

Lalu siapa Dayang Sumbi dalam cerita Sangkuriang?

Dayang Sumbi sebenarnya adalah ibu kandung dari Sangkuriang, mereka tidak saling mengenali satu sama lain karena sudah lama berpisah.

Legenda Sangkuriang

Pada jaman dahulu ada seekor babi melintas di sebuah hutan belantara.

Babi hutan itu tampak kehausan di tengah panasnya terik matahari.

Saat dia mencari-cari mata air, dia melihat ada air yang tertampung di pohon keladi hutan, dan segeralah diminumnya air itu untuk melepas dahaga.

Tanpa disadarinya air itu adalah air seni Raja Sungging Perbangkara.

Karena kesaktian Raja Sungging Perbangkara, babi hutan itu pun mengandung setelah meminum air seninya.

Sembilan bulan kemudian si babi hutan melahirkan seorang bayi perempuan.

Raja Sungging Perbangkara mengetahui perihal adanya bayi perempuan yang terlahir karena air seninya itu.

Ia pun pergi ke hutan untuk mencarinya, dan ditemukannya bayi prempuan itu.

Dia pun memberinya nama Dayang Sumbi dan membawanya pulang ke istana kerajaan.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik wajahnya.

Banyak sekali raja, pangeran dan bangsawan yang ingin memperistri anak perempuan Raja Sungging Perbangkara itu.

Namun, semua pinangan itu di tolak Dayang Sumbi dengan halus.

Sama sekali tidak diduga oleh Dayang Sumbi, mereka yang ditolak pinangannya itu saling berperang sendiri untuk memperebutkan dirinya.

Dayang Sumbi sangat bersedih mengetahui kenyataan bahwa para pangeran, raja dan bangsawan yang ditolaknya saling melakukan peperangan.

Dia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri.

Sang Raja akhirnya mengijinkan anaknya tersebut untuk mengasingkan diri.

Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani oleh seekor anjing jantan bernama si tumang.

Untuk mengisi waktu luangnya selama dalam pengasingan, Dayang Sumbi pun menenun.

Pada saat Dayang Sumbi sedang menenun, peralatan tenunannya terjatuh.

Ketika itu Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya.

Ia pun melontarkan ucapan yang tidak terlalu disadarinya, ” Siapapun juga yang bersedia mengambilkan peralatan tenunku yang terjatuh, seandainya itu lelaki akan kujadikan suami, jika dia perempuan dia akan kujadikan saudara.”

Tidak disangka bahwa si tumang lah yang mengambil peralatan tenun yang terjatuh itu dan memberikannya kepada Dayang Sumbi.

Tidak ada yang dapat diperbuat Dayang Sumbi selain memenuhi ucapannya.

Dia menikah dengan Si Tumang yang ternyata merupakan titisan dewa.

Si Tumang adalah dewa yang dikutuk menjadi hewan dan dibuang ke bumi.

Beberapa bulan setelah menikah, Dayang Sumbi pun mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki.

Dayang Sumbi memberinya nama Sangkuriang.

Waktu pun terus berlalu, hingga beberapa tahun kemudian terlewati.

Sangkuriang pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan wajahnya dan gagah serta tubuhnya kuat dan kekar.

Sangkuriang juga memiliki kesaktian yang luar biasa.

Sejak kecil Sangkuriang sangat hobi berburu.

Setiap kali melakukan perburuan di hutan, Sangkuriang senantiasa ditemani oleh si tumang.

Sangkuriang sama sekali tidak tahu bahwa si Tumang adalah ayah kandungnya.

Pada suatu hari Sangkuriang melakukan perburuan di hutan, untuk mencari kijang, karena ibunya sangat menghendaki memakan hati kijang.

Setelah beberapa saat berada di dalam hutan, Sangkuriang melihat seekor kijang yang tengah merumput di balik semak belukar.

Sangkuriang memerintahkan si tumang untuk mengejar kijang itu, tetapi sangat aneh karena tiba-tiba si Tumang yang biasanya penurut, seketika tidak menuruti perintah Sangkuriang.

Sangkuriang menjadi marah. Katanya, ” Jika engkau tetap tidak menuruti perintahku, niscaya aku akan mebunuhmu.”

Ancaman Sangkuriang seakan tidak dipedulikan si Tumang. Karena jengkel dan marah, Sangkuriang lantas membunuh si Tumang.

Hati anjing hitam itu diambilnya dan dibawanya pulang ke rumah.

Sangkuriang memberikan hati si Tumang kepada ibunya untuk dimasak.

Tanpa disadari Dayang Sumbi bahwa hati yang diberikan anaknya adalah hati suaminya.

Dia kemudian memasak dan memakan hati itu.

Lalu saat sadar bahwa Tumang tidak, ada dan ia pun mengetahui bahwa yang ia masak dan ia makan adalah Tumang, amarah Dayang Sumbi sangat tak terbendung kepada Sangkuriang.

Seketika Dayang Sumbi mengambil gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan memukul kepala Sangkuriang, hingga kepala Sangkuriang terluka.

Sangkuriang sangat marah dan sakit hati dengan perlakuan ibunya itu.

Menurutnya, Ibunya lebih menyayangi si Tumang dibandingkan dirinya.

Maka, tanpa pamit kepada Dayang Sumbi, Sangkuriang pun lantas pergi mengembara ke arah timur.

Dayang Sumbi sangat menyesal setelah mengetahui kepergian Sangkuriang anaknya.

Dia pun bertapa dan memohon ampun kepada para dewa atas kesalahan yang diperbuatnya.

Para dewa mendengar permintaan Dayang Sumbi, mereka menerima permintaan maaf itu dan mengaruniakan Dayang Sumbi kecantikan abadi.

Sangkuriang pun terus mengembara tanpa tujuan yang pasti selama bertahun-tahun.

Dalam pengembaraanya Sangkuriang terus menambah kesaktiannya dengan berguru kepada orang-orang sakti yang ditemuinya selama pengembaraan.

Bertahun-tahun Sangkuriang mengembara tanpa disadari dia kembali ke tempat dimana dia dahulu dilahirkan.

Tiba-tiba ia disana melihat seorang wanita, Sangkuriang pun terpesona dengan kecantikannya.

Wanita itu ternyata adalah Dayang Sumbi, yang memiliki kecantikan abadi.

Sangkuriang benar-benar tidak menyadari bahwa wanita cantik yang ditemuinya di hutan adalah ibu kandungnya sendiri.

Hal yang sama terjadi juga pada Dayang Sumbi yang tidak menyadari bahwa pemuda gagah yang sakti itu adalah Sangkuriang anaknya.

Karena saling jatuh cinta mereka merencenakan untuk menikah.

Sebelum pernikahan dialngsungkan Sangkuriang berniat untuk berburu.

Dayang Sumbi membantu Sangkuriang mengenakan penutup kepala.

Ketika itulah dayang Sumbi melihat luka di kepala calon suaminya.

Dan ia teringat pada anak lelakinya yang telah hilang meninggalkannya selama bertahun-tahun.

Dayang Sumbi pun sangat yakin bahwa pemuda gagah itu tidak lain adalah Sangkuriang anaknya.

Dayang Sumbi kemudian menjelaskan bahwa dai sesungguhnya adalah ibu kandungnya.

Oleh karena itu dia tidak bersedia menikah dengan anak kandungnya tersebut.

Namun, Sangkuriang yang telah dibutakan oleh hawa nafsu tidak memperdulikan penjelasan Dayang Sumbi, dia tetap bersikukuh akan menikahi Dayang Sumbi.

“Jika memang begitu kuat keinginanmu untuk menikahiku, aku mau engkau memenuhi satu permintaanku” Kata Dayang Sumbi.

“Apa permintaan yang engkau kehendaki.” jawab Sangkuriang.

Dayang Sumbi mengajukan syarat yang laur biasa berat yaitu dia ingi sungai citarum dibendung untuk dibuat danau, dan didalam danau itu ada perahu besar.

” Semua itu harus dapat engkau selesaikan dalam waktu satu malam, sebelum fajar terbit, kedua permintaanku itu harus telah selesai engaku kerjakan” Ucap Dayang Sumbi.

Tanpa ragu Sangkuriang menyanggupi permintaan dari Dayang Sumbi.” Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu.”

Sangkuriang segera bekerja mewujudkan permintaan Dayang sumbi.

Ia kemudian langsung menebang pohon besar untuk dibuatnya sebuah perahu.

Cabang dan ranting pohon yang tidak dibutuhkannya ditumpukan.

Tumpukan cabang dan ranting pohon itu dikemudian hari menjelma menjadi gunung Burangrang.

Begitu pula tunggul pohon pohon itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang lebih dikenal gunung bukit tinggul.

Perahu besar itu akhirnya selesai dibuat Sangkuriang.

Pemuda Sakti itu lantas berniat membendung aliran sungai Citarum yang deras untuk dibuat sebuah danau.

Sangkuriang kemudian memanggil para makhluk halus untuk membantunya mewujudkan permintaan Dayang sumbi.

Semua kecurangan yang dilakukan Sangkuriang diketahui oleh Dayang Sumbi.

Seketika Dayang Sumbi cemas, karena sebentar lagi pekerjaan Sangkuriang selesai.

Lalu ia berfikir bagaimana caranya dapat menggagalkan pekerjaan Sangkuriang, agar pernikahan dengan anak kandungnya itu tidak terlaksana.

Dia pun memohon pertolongan dari para Dewa.

Setelah berdoa, Dayang Sumbi mendapatkan petunjuk, lantas Dayang Sumbi pun menebarkan boeh rarang (kain putih hasil tenunan).

Dia juga memaksa ayam jantan berkokok disaat waktu masih malam.

Para makhluk halus sangat ketakutan ketika mengetahui fajar telah tiba.

Mereka berlari dan menghilang kesegala penjuru dan mereka meninggalkan pekerjaannya membuat danau dan perahu yang belum selesai.

Sangkuriang sangat marah, dan ia merasa Dayang Sumbi telah berlaku curang kepadanya.

Dia sangat yakin bahwa fajar sesungguhnya belum tiba, dia merasa masih tersedia waktu baginya untuk menyelesaikan pekerjaan.

Karena sangat marah, Sangkuriang pun menjebol bendungan di Sanghyang Tikoro.

Sumbat aliran citarum lantas dilemparkannya ke arah timur yang kemudian menjelma menjadi gunung Manglayang.

Air yang semula memenuhi danau itu pun menjadi surut.

Itu belum membuat kemarahannya reda.

Sangkuriang lantas menendang perahu besar yang telah dibuatnya hingga terlempat jauh dan jatuh tertelungkup.

Perahu besar itu kini diketahui telah menjadi sebuah gunung yang kemudian di sebut gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang yang sangat emosi, terus mengejar Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi pun ketakutan, dan akhirnya ia menjelma menjadi sebuah bukit, dan kemudian ia memilih untuk menghilang ke alam gaib agar tak jadi menikah dengan anaknya kandungnya sendiri.

(/Oktavia WW)

Berita lain terkait Cerita Legenda