Sejarah Wayang Kulit, Perkembangan Wayang Di Indonesia Dan Peran Dalang Dalam Pertunjukan

By | March 17, 2022

Wayang Kulit adalah kesenian daerah yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan sebagainya), biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang, dikutip dari KBBI.

Kesenian wayang masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda dari Kemanusiaan yang berasal dari Indonesia pada 2008, yang ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Istilah “wayang” berasal dari kata “ma Hyang”, yang artinya menuju spiritualitas Sang Kuasar, seperti yang tertulis dalam laman Sistem Informasi Pangauban.

Ada juga yang mengartikan kata “Wayang” sebagai teknik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.

Seorang dalang dalam pertunjukan wayang nantinya bertugas menjalankan wayang sekaligus sebagai pencerita.

Istilah “Dalang” merupakan singkatan dari kata-kata dalam bahasa Jawa “Ngudhal piwulang”.

“Ngudhal” berarti menyebar luaskan atau membuka dan “Piwulang” berarti pendidikan atau ilmu.

Sehingga, istilah dalang dapat dimaknai sebagai orang yang memiliki ilmu lebih dan membagikannya kepada para penonton melalui pertunjukan wayang.

Sejarah Wayang Kulit

Catatan sejarah pertama berasal dari tahun 930 Masehi tentang adanya pertunjukkan wayang mengacu pada sebuah prasasti.

Terdapat istilah penting pewayangan yaitu adanya sosok Galigi mawayang.

Galigi merupakan seorang penampil yang sering dimintai untuk menggelar pertunjukkan ketika ada acara atau upacara penting.

Biasanya, ia membawakan cerita tentang Bima, seorang ksatria dari kisah Mahabharata.

Galigi membawakan cerita wayang dalam kakawin Arjunawiwaha yang dibuat oleh Mpu Kanwa pada tahun 1035.

Ia berjarak satu wayang dari Jagatkarana ketika menceritakan Arjunawiwaha.

Istilah “Jagatkarana” merupakan sebuah ungkapan yang menggambarkan kehidupan nyata dengan dunia wayang.

Pertunjukkan wayang mengalami perkembangan, baik secara teknis maupun dari segi cerita.

Cerita yang terkenal di kisah wayang Jawa adalah Punakawan.

Punakawan merupakan cerita tradisional tentang empat abdi para ksatria di pewayangan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Selain itu, cerita Mahabharata tentang perang saudara juga cukup populer.

Mahabharata menceritakan tentang lima saudara Pandawa, yaitu Yudisthira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa yang melawan Kurawa.

Epic Ramayana juga menjadi cerita wayang yang sering dipertunjukkan pada masa Hindu dan Budha di Indonesia.

Kedua epic Mahabharata dan Ramayana sering menjadi cerita utama dalam pertunjukkan wayang, bahkan sampai sekarang.

Adanya kesenian wayang di Indonesia tidak lepas dari penyebaran agama, terutama agama Islam di tanah Jawa yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga menggunakan media wayang sebagai sarana menyebarkan agama Islam.

Dari perkembangan wayang tersebut, musik yang mengiringi pertunjukkan juga menjadi daya tarik tersendiri pada setiap pertunjukkan.

Alat musik yang digunakan adalah alat musik tradisional serta dilengkapi dengan penyanyi pengiring pewayangan, sinden.

Pertunjukkan wayang kemudian berkembang menjadi beberapa jenis berdasarkan wayang, di antaranya wayang kulit, wayang wong, dan wayang golek.

Wayang Kulit

Wayang Purwa atau wayang kulit adalah wayang yang berbahan dasar kulit kerbau.

Dikutip dari laman Kemdikbud, wayang purwa di ciptakan oleh Prabu Jayabaya dengan gelar Arum Gandaning Brahmana.

Saat itu, Prabu Jayabaya ingin membuat wayang purwa karena senang pada cerita dan riwayat para nenek moyangnya, tercantum dalam serat Pustakaraja Purwa.

Ia mendapat inspirasi dari arca para dewa dan gambar yang diukir sepanjang tembok batu sekeliling candi.

Ukiran-ukiran tersebut menceritakan Rama dalam cerita Ramayana.

Awalnya Prabu Jayabaya membuat coretan gambar meniru arca para dewa di atas daun Tal.

Wayang yang digambar pertama adalah arca Batara guru, kemudian prabu juga menggambar dewa-dewa.

Setelah selesai di gambar, hasilnya tersebut direntangkan dengan menggunakan tali, menurut urutan sejarahnya dan kemudian dimasukkan ke dalam peti ukiran kayu kecil.

Wayang diatas daun Tal tersebut dilihat kembali pada hari ulang tahun Prabu.

Melihat gambaran wayang tersebut yang terlalu kecil, kemudian sang Prabu memerintahkan untuk memindahkan gambar wayang di atas kulit lembu yang sudah diolah dan dikeringkan.

Gambar wayang lalu ditatah di atas kulit, lalu diberi pegangan dari bambu.

Jumlah wayang pertama sebanyak 50 buah dan diberi nama Wayang Purwa dengan Sengkalan: Candraning Wayang Wolu, pada tahun Surya 861.

(/Yunita Rahmayanti)

Artikel lain terkait Wayang