Mengenal Pasang Surut Air Laut: Jenis Dan Faktor Penyebabnya

Pasang surut laut merupakan fenomena fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi.

Pasang adalah peristiwa naiknya permukaan air laut, sedangkan surut adalah peristiwa turunnya permukaan air laut.

Menurut Newton seperti dijelaskan dalam laman lmsspada.kemdikbud.go.id, besarnya gaya tarik menarik antara dua titik massa berbanding langsung dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya.

Meskipun massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap bumi jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar daripada pengaruh gaya tarik matahari.

Gaya tarik menarik yang diakibatkan oleh bulan bisa lebih besar 2,18 kali daripada gaya yang diakibatkan oleh matahari.

Pada periode saat ini, bulan telah mencapai titik terdekatnya dengan Bumi atau yang disebut terjadi fenomena perigee.

Baca juga :  Kunci Jawaban Seni Budaya Kelas 9 Halaman 9 Mengenal Pelukis Dan Aliran Seni Rupa

Mengutip Kompas.com, bulan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi (perigee) pada 17 Mei pukul 22.23 WIB/23.23 WITA/18 Mei pukul 00.23 WIT dengan jarak 360.298 km dan lebar sudut 33,0 menit busur.

Fenomena perigee ini berpengaruh terhadap tingginya pasang air laut.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di kawasan Tanjung Mas, Semarang Jawa Tengah yang mengalami banjir rob setinggi pinggang orang dewasa pada Senin (23/5/2022) sore.

Banjir tersebut dipicu naiknya ketinggian air laut sehingga air melewati batas tanggul laut dan melimpas ke daratan.

Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Ganis Erutjahjo menyebut banjir rob disebabkan adanya Fenomena Perigee atau jarak terdekat bumi dengan bulan.

“Tinggi gelombang di perairan Utara Jawa Tengah mencapai 1,25-2,5 meter. Kondisi di akhir bulan Syawal, dimana masa itu adalah mendekati fase puncak pasang. Pada 23 Mei 2022, pukul 16.00 WIB tercatat tinggi pasang 210 cm,” kata Ganis, dikutip dari Kompas.com.

Baca juga :  5 Contoh Puisi Kemerdekaan Indonesia Untuk Malam Tirakatan HUT Ke-77 RI 17 Agustus 2022

Jenis dan Faktor Penyebab Pasang Surut Air Laut

Gaya tarik menarik antara Bumi dan Bulan menyebabkan sistem Bumi dan Bulan menjadi satu sistem kesatuan yang beredar bersama-sama sekeliling sumbu perputaran bersama (common axis of revolution).

Pembentukan pasang surut air laut sangat dipengaruhi oleh gerakan utama Matahari dan Bulan, yaitu:

1. Revolusi Bumi terhadap Matahari dengan orbitnya berbentuk elips, periode yang diperlukan adalah 365, 25 hari.

2. Revolusi Bulan terhadap Bumi yang orbitnya berbentuk elips dan memerlukan periode untuk menyelesaikan revolusi itu selama 29,5 hari.

3. Perputaran bumi terhadap sumbunya sendiri, periode yang diperlukan untuk gerakan ini adalah 24 jam.

Mengutip laman lmsspada.kemdikbud.go.id, ada dua jenis pasang air laut yaitu pasang purnama (spring tide) dan pasang perbani (neap tide).

Baca juga :  Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 8 SMP Halaman 25, Observing And Asking Questions: About Classmate

Pasang Purnama dipengaruhi oleh gravitasi Bulan, terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus.

Pada saat itu akan dihasilkan pasang yang sangat tinggi dan surut yang sangat rendah.

Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.

Pasang ini menjadi maksimum ketika terjadi gerhana Matahari.

Hal ini karena dipengaruhi oleh gravitasi Bulan dan Matahari yang mempunyai arah yang sama atau searah.

Pasang Perbani (neap tide), yaitu ketika permukaan air laut turun serendah-rendahnya.

Pasang perbani terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus.

Ini terjadi pada saat Bulan kuartir pertama atau saat bulan 1/4 dan kuartir ketiga atau bulan 3/4.

Pasang perbani dipengaruhi oleh gravitasi Bulan dan Matahari yang saling tegak lurus.

(Tribunnews.com/Tio)