Kisah Para Pelajar Peraih Beasiswa Dari ‘Desa Miliarder’ Tuban

By | March 26, 2022

Sebanyak 21 dari 47 pelajar Tuban penerima beasiswa Pertamina
Group tahun ini memasuki tahap akhir studi di program studi D-III Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas di Cepu, Jawa Tengah.

Mereka berharap setelah lulus nanti bisa langsung bekerja di proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, mereka menyimpan mimpi-mimpi yang mulia.

Salah seorang penerima beasiswa adalah Tin Khoirinnatul Musyarofah atau akrab disapa Inna
(22 tahun). Inna semula ingin mendaftar Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN).

Opsi lain, dia ingin kuliah di jurusan farmasi. Namun warga Desa Wadung ini akhirnya memilih
mengambil beasiswa D-III Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas Cepu dari PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (Pertamina Rosneft).

“Saya semula ingin kuliah S1. Saya ikut tes STAN dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) untuk Jurusan Farmasi di Universitas Negeri Jember. Namun musibah menerpa, yang mengubah rencana studi saya sehingga saya mengambil D-III PEM Akamigas,” tutur Inna.

Tahun 2019 lalu kakak Inna meninggal dunia. Selepas kepergian sang kakak, Inna menjadi tumpuan harapan ayah dan ibunya yang bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan.

Dia pun meninggalkan proses penerimaan mahasiswa di Universitas Negeri Jember, meski telah
lolos SBMPTN dan bahkan sudah mendaftar ulang.

“Ketika dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa dari Pertamina, saya memilih mengambilnya
karena saya berpikir sebagai anak satu-satunya, harapan orang tua tertumpu pada saya,” ujarnya.

Dia berharap, beasiswa ini kelak bisa mengantarkan saya untuk mewujudkan mimpi membahagiakan orang tuanya.

Inna sudah dua tahun ini menjalani pendidikan dengan beasiswa. Dia berharap kelak bisa mendedikasikan ilmunya ke Pertamina Rosneft yang telah memberinya beasiswa, dengan bergabung menjadi pekerja di proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban.

Jika kelak diterima, dia ingin menabung sebagian gajinya demi memberangkatkan orang tuanya yang berusia 50 tahun lebih berhaji ke Tanah Suci.

Lain halnya dengan Budi Hermanto (21 tahun). Berangkat dari latar belakang keluarga buruh tani, warga Desa Mentoso ini sempat berpikir bahwa jenjang pendidikannya hanya akan berakhir di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Ketika mendengar pendaftaran beasiswa D3 PEM Akamigas dari Pertamina Rosneft, dia melihat peluang untuk mengubah nasib diri dan keluarganya melalui beasiswa.

Sebagai anak pertama di keluarganya, Budi mengerti bahwa dia akan menjadi tumpuan orang tuanya kelak. Kini setelah memasuki tahun terakhir pendidikan D3 PEM Akamigas, dia berharap kelak dapat berkontribusi banyak sebagai pekerja Pertamina Rosneft.

“Ketika diumumkan menerima beasiswa, saya sangat bersyukur. Jika diterima bekerja di kilang GRR Tuban, pastinya gaji akan saya gunakan untuk membahagiakan orang tua. Saya ingin berangkatkan haji orang tua, membuka usaha, dan bersedekah,” tutur Budi.

Tedy Putra Pratama, penerima beasiswa asal Desa Rawasan termotivasi mengejar beasiswa demi membahagiakan orang-tua.

Terlahir dari ayah dan ibu yang bekerja sebagai kuli bangunan dan pedagang baju, pemuda berusia 21 tahun ini sangat ingin membahagiakan bapak-ibunya dengan cara sederhana: memperbaiki rumah mereka yang masih beralaskan semen.

“Itu dulu, baru kemudian menabung untuk memberangkatkan orang-tua naik haji. Saya bersemangat mengambil beasiswa ini setelah mendengar nasihat Bapak. Beliau ingin saya bersungguh-sungguh, agar bisa menaikkan derajat orang tua. Anak dari seorang kuli yang bisa menjadi pekerja Pertamina,” tuturnya.

Bagi Tedy, menjadi pekerja Pertamina memunculkan harapan akan masa depan yang lebih baik, yang menginspirasi rekan-rekan sebayanya untuk giat mencari ilmu dan mengejar peluang.

“Banyak anak di desa saya berpikir: ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya jadi kuli. Dengan beasiswa ini, saya ingin membuktikan bahwa anak desa bisa kuliah dan jadi orang sukses.”

Corporate Affairs Pertamina Rosneft Yuli Wahyu Witantra mengatakan para penerima beasiswa studi D-III di PEM Akamigas tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka, karena setelah mereka lulus bakal langsung diserap menjadi pekerja di proyek GRR Tuban.

“Memang tujuan akhir program beasiswa tersebut adalah untuk memberdayakan anak muda potensial yang tinggal di sekitar lokasi proyek agar memiliki kecakapan untuk menjadi pekerja Pertamina Rosneft. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mengembangkan dan menyerap pekerja lokal,” tuturnya.

Yuli menyatakan, program beasiswa tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas warga di sekitar lokasi proyek agar menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di desa masing-masing. Hingga saat ini Pertamina Rosneft telah melibatkan 1.220 pekerja lokal dalam proses pembersihan lahan (land clearing) mulai dari tahap I sampai tahap IV.

Proyek Kilang GRR Tuban merupakan proyek pembangunan kilang minyak baru yang terintegrasi
dengan kilang petrokimia guna mewujudkan ketahanan energi negeri.

Selain produk BBM, Kilang GRR Tuban bertujuan menghasilkan produk petrokimia sebesar 2820 kilo ton per tahun, serta paraxylene sebesar 1300 kilo ton per tahun. Kilang ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 300 ribu barrel per hari ini dan akan menjadi salah satu kilang terbesar yang dimiliki Pertamina.