Interaksi Sosial: Pengertian, Syarat Dan Bentuknya

Sejak lahir sampai akhir hayat, manusia akan terlibat di dalam interaksi.

Dikutip dari KBBI, interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis antara perseorangan dan perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok.

Pada saat masih bayi terlibat interaksi terutama dengan ibu atau pengasuhnya.

Setelah besar terlibat interaksi dengan tetangga, teman-teman sepermainan, dan teman-teman sekolah.

Setelah dewasa terlibat interaksi dengan teman-teman seprofesi dan seterusnya.

Dikutip dari Buku Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VII oleh Iwan Setiawan dkk, interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dan kelompok manusia.

Interaksi sosial dapat terjadi di mana pun dan kapan pun, serta dilakukan oleh siapa pun tanpa mengenal usia, status sosial, dan pendidikan.

Dalam interaksi sosial, hubungan yang terjadi harus dilakukan secara timbal balik oleh kedua belah pihak.

Tujuan manusia melakukan interaksi sosial dalam kehidupannya tak lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan), kebutuhan akan ketertiban, kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan, kebutuhan-kebutuhan akan kasih sayang.

Baca juga :  Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022: Sejarah, Tema, Logo Dan Kumpulan Link Twibbon

Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial didasarkan pada beberapa faktor, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi, simpati.

a. Faktor imitasi merupakan proses seseorang mencontoh orang lain atau kelompok.

b. Faktor sugesti merupakan pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang.

c. Faktor identifikasi merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain.

d. Faktor simpati merupakan kemampuan untuk merasakan diri seolah-olah dalam keadaan orang lain dan ikut merasakan apa yang dilakukan, dialami, atau diderita orang lain.

Faktor-faktor itu dapat bergerak sendiri-sendiri, secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung.

Syarat atau Ciri Interaksi Sosial

Adapun syarat atau ciri suatu tindakan manusia dikatakan sebagai interaksi sosial yakni:

1. Jumlah pelakunya lebih dari seorang, biasanya dua atau lebih.

2. Berlangsung secara timbal-balik.

3. Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati.

4. Adanya suatu tujuan tertentu.

Baca juga :  KUNCI JAWABAN Tema 7 Kelas 5 SD Halaman 192 193 194 195 Buku Tematik Subtema 3 Pembelajaran 5

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Berikut beberapa bentuk interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat:

1. Kerja sama

Bentuk kerja sama dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah gotong royong.

Gotong royong pada dasarnya mencerminkan suatu interaksi sosial di masyarakat Indonesia dalam wujud kerja sama.

Dalam pelaksanaannya, ada lima bentuk kerja sama yaitu kerukunan, bergaining, kooptasi, koalisi, dan joint venture.

2. Akomodasi

Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.

Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga mereka tidak kehilangan kepribadiannya.

Dalam pelaksanaannya, akomodasi memiliki beberapa bentuk yaitu koersi, kompromi, arbitrasi, mediasi, konsiliasi, toleransi, stalemate, dan ajudikasi.

3. Asimilasi

Asimilasi adalah cara-cara bersikap dan bertingkah laku dalam menghadapi perbedaan untuk mencapai kesatuan dalam pikiran dan tindakan.

Proses asimilasi dapat dengan mudah terjadi melalui beberapa cara, antara lain dengan sikap toleransi, saling menghargai orang lain dan kebudayaannya, persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, serta perkawinan campuran.

Baca juga :  Rekomendasi Lomba 17 Agustusan Yang Menarik, Unik, Dan Lucu Sambut HUT Ke-77 Republik Indonesia

4. Kompetisi (Persaingan)

Kompetisi adalah suatu proses individu atau kelompok yang bersaing untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan tertentu.

Ada dua persaingan, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan persaingan kelompok.

5. Kontravensi

Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu.

Kontravensi ini ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian atau keraguan terhadap kepribadian seseorang.

6. Pertentangan (Konflik)

Pertentangan (konflik) adalah suatu proses di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.

Ini terjadi jika dua pihak berusaha saling menggagalkan tujuan masing-masing.

Pertentangan (konflik) disebabkan oleh antara lain perbedaan antara individu-individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial.

Akibat adanya konfik harta benda hancur, kebahagiaan keluarga terampas, dan banyak nyawa terenggut secara paksa.

(/Fajar)

Artikel lain terkait materi sekolah