Hukum Menindik Telinga Hewan Kurban Sebagai Tanda, Bolehkah Dilakukan?

Menyembelih hewan kurban saat Idul Adha merupakan amal saleh yang paling utama.

Saat menjelang Idul Adha 10 Dzulhijjah, banyak masyarakat yang membeli hewan kurban seperti kambing atau sapi, atau bahkan unta.

Saking banyaknya pemesan hewan kurban, terkadang ada penjual yang menandai hewan kurban yang terjual dengan berbagai cara.

Ada yang melubangi telinga hewan kurban kemudian digantungkan sebuah pin yang tertera nama pemiliknya.

Padahal syarat sah hewan untuk kurban adalah sehat, cukup umur dan tidak cacat seperti buta atau pincang.

Lantas bagaimana hukumnya melubangi telinga hewan untuk dijadikan sebagai penanda?

Dilansir laman Bimas Islam Kemenag, menandai hewan kurban dengan cara menindik atau melubangi telinga hewan kurban biasa disebut dengan isy’ar ‘pemberian tanda’.

Ulama membagi hukumnya menjadi dua, yakni boleh dan tidak boleh.

Tidak diperbolehkan melubangi telinga hewan jika hewan tersebut adalah kambing atau domba.

Hal ini karena kambing dan domba merupakan hewan yang lemah, sehingga tidak boleh dilukai sekalipun tujuannya adalah menandai kambing atau domba tersebut hendak dijadikan kurban.

Pendapat ini sebagaimana dikatakan Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Baca juga :  KUNCI JAWABAN Tema 8 Kelas 1 Halaman 88, 89, 90, Dan 91 Buku Tematik Subtema 2: Kemarau

Ulama sepakat bahwa kambing tidak boleh dilubangi telinganya, karena hewan tersebut sangat lemah, jika sampai terluka. Di samping itu, badan kambing pun tertutupi bulunya yang tebal (sehingga lubang yang dibolongi pada badan kambing pun tak terlihat).

Cara terbaik jika ingin menandai kambing atau domba yakni dengan memberikan kalung di lehernya, bukan dengan cara dilukai, baik di bagian telinganya atau lainnya.

Hal ini Imam al-Nawawi sampaikan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab sebagai berikut:

Jika hewan kurban berupa kambing, cukup ditandai dengan kalung. Hal ini karena terdapat riwayat Aisyah yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. suatu saat itu menyediakan kurban beberapa ekor kambing yang tertandai dengan kalung.

Pendapat kedua tentang dibolehkan menindik hewan qurban adalah jika hewan tersebut berupa sapi atau unta.

Imam Al-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menerangkan tentang bolehnya menindik sapi atau unta jika bertujuan sebagai penanda hewan akan dijadikan kurban.

Untuk sapi, Imam Al-Syafii dan ulama yang setuju dengannya, menganjurkan untuk diberi isy’ar dan taqlid (dikalungkan tali di leher), sebagaimana unta.

Dalil yang dijadikan dasar kebolehan isy’ar pada sapi dan unta ini adalah hadis riwayat Imam Muslim, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi Saw melaksanakan shalat Zuhur di Dzilhulaifah, kemudian beliau meminta diambilkan untanya. Lalu beliau melakukan isy’ar di sisi punuknya sebelah kanan, hingga terluka dan mengalirkan darah, lalu beliau mengalungkan dua sandal di lehernya. Kemudian beliau menaiki hewan tunggangannya. Setelah beliau berada di atas tunggangannya, beliau berihlal untuk haji.

Baca juga :  Teka-teki Makanan Dan Minuman MPLS: Biskuit Kaget, Chiki Bohong, Hingga Minuman Permisi

Ketentuan Peruntukkan Hewan Kurban

Untuk diketahui, hewan kurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yakni Unta, Sapi dan Kambing.

Lantas ketika seseorang hendak berqurban dengan kambing, sapi atau unta, maka sebenarnya qurban itu bisa diperuntukkan untuk qurban berapa orang?

Dikutip dari laman Bimas Islam Kemenag, masing-masing dari ketiga jenis hewan tersebut memiliki ketentuan masing-masing yang telah ditetapkan oleh syariat.

Khusus untuk jenis hewan kambing atau domba, para ulama telah sepakat bahwa hewan tersebut hanya boleh dijadikan qurban untuk satu orang saja, tidak boleh lebih.

Karena itu, jika kambing atau domba diperuntukkan untuk qurban lebih dari satu orang, maka hukumnya tidak sah.

Baca juga :  Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 8 Kelas 1 SD Halaman 63 64 65 Pembelajaran 1 Subtema 2

Hukum kambing atau domba hanya sah digunakan untuk qurban satu orang ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj.

(Seekor kambing) baik domba maupun kambing kacang itu mencukupi (sah) untuk qurban (satu orang) saja berdasarkan kesepakatan ulama, tidak untuk lebih satu orang.

Dalam kitab Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, Imam Al-Nawawi juga menegaskan bahwa satu kambingatau dombahanya untuk qurban satu orang dan tidak cukup digunakan untuk qurban lebih dari satu orang.

Beliau berkata, “seekor kambing cukup dijadikan qurbanuntuk satu orang, dan tidak mencukupi untukdijadikan qurban lebih dari satu orang.”

Sementara itu, untuk unta dan sapi boleh diperuntukkan kurbannya untuk tujuh orang.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berdasar hadis Jabir.

Disebutkan dalam kitab itu yakni, “berkaitan dengan syarat ini pula ialah bahwa kambing hanya cukup digunakan qurban satu orang, sementara masing-masing unta dan sapi cukup digunakan untuk tujuh orang. Ini berdasarkan hadis Jabir, dia berkata; Kami berqurban bersama Rasulullah Saw pada tahun Hudaibiyah dengan unta untuk tujuh orang, dan sapi untuk tujuh orang.”

(Tribunnews.com/Tio)