5 Poin Peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946 Sebagai Usaha Mempertahankan Kemerdekaan

By | March 24, 2022

Peristiwa Bandung Lautan Api tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia pada 24 Maret 1946.

Hari ini bertepatan dengan peringatan Bandung Lautan Api yang ke-76.

Keadaan Indonesia setelah meraih kemerdekaan belum stabil, terutama kondisi keamanan dan pertahanan.

Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia VI (2008) yang ditulis oleh Djanoed Poesponegoro, Marwati dan Nugroho Notosusanto, masih ada perebutan wilayah di beberapa daerah di Indonesia.

Pertempuran ini termasuk peristiwa yang disebut Bandung Lautan Api.

Peristiwa Bandung Lautan Api

Kedatangan Sekutu di Indonesia

Pertempuran Bandung Lautan Api juga merupakan usaha bangsa Indonesia mempertahankan wilayah negara dan kedaulatan dari penjajah, dikutip dari laman Kemendikbud.

Kejadian ini diawali dengan datangnya pasukan sekutu di bawah Brigade MacDonald pada 12 Oktober 1945.

Sejak awal, hubungan antara pemerintah RI dengan Sekutu sudah memanas.

Sekutu meminta seluruh senjata api yang dimiliki penduduk, kecuali milik Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Polisi diserahkan kepada Sekutu.

Saat itu orang-orang Belanda yang baru saja bebas dari kamp tahanan mulai melakukan tindakan yang mengacaukan keamanan dan membuat suasana di Bandung semakin memanas.

Akibatnya, bentrokan antara tentara Sekutu dengan TKR tidak dapat dihindari.

Ultimatum Sekutu dan Serangan Bangsa Indonesia

Pada malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan–badan perjuangan lainnya menyerang markas–markas Sekutu di Bandung bagian utara, termasuk Hotel Homan dan Hotel Preanger yang menjadi markas besar Sekutu.

Tiga hari setelah penyerangan markas Sekutu, Brigade MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar mengosongkan wilayah Bandung Utara oleh seluruh warga Indonesia termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum tersebut harus dilaksanakan selambat–lambatnya pukul 12.00 tanggal 29 November 1945.

Terbitnya ultimatum itu mendorong Sekutu membagi kota Bandung Utara menjadi wilayah kekuasaan mereka, sedangkan Bandung Selatan kekuasaan pemerintah RI.

Ultimatum dijawab pasukan Indonesia dengan mendirikan pos–pos gerilya di berbagai tempat.

Selama bulan Desember 1945 terjadi beberapa pertempuran di berbagai tempat antara lain, Cihaurgeulis, Sukajadi, Pasir Kaliki dan Viaduct.

Sekutu berusaha merebut Balai Besar Kereta Api namun usaha tersebut gagal.

Mereka juga berusaha membebaskan interniran Belanda di Ciater.

Kemudian, mereka terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Indonesia di wilayah Lengkong Besar.

Serdadu India Memberontak dari Sekutu

Memasuki awal tahun 1946, pertempuran di berbagai wilayah Bandung semakin berkobar secara sporadis.

Selama pertempuran berlangsung, banyak serdadu India yang merupakan bagian dari pasukan Sekutu melakukan desersi dan bergabung dengan pasukan Indonesia.

Satu dari serdadu India yang membelot adalah Kapten Mirza dan pasukannya ketika terjadi pertempuran di jalan Fokker (sekarang jalan Garuda) pada pertengahan Maret 1946.

Setelah pecahnya pertempuran di berbagai daerah, pihak Sekutu menghubungi Panglima Divisi III RI, Jenderal A.H Nasution untuk meminta pasukan India tersebut diserahkan kembali kepada Sekutu.

Mereka juga ingin mengadakan pertemuan dengan pemerintah RI, namun Jenderal A.H Nasution menolak.

Sekutu Menolak Penundaan Batas Ultimatum

Serangan sporadis dari pasukan Indonesia dan kegagalan mencari penyelesaian di tingkat daerah membuat posisi Sekutu semakin terdesak.

Sekutu melancarkan strategi dengan melakukan pendekatan terhadap petinggi pemerintahan RI.

Pada tanggal 23 Maret 1946, Sekutu menyampaikan ultimatum kepada Perdana Menteri Syahrir agar selambat–lambatnya pada pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946 pasukan Indonesia sudah meninggalkan Bandung Selatan sejauh 10 sampai 11 kilometer dari pusat kota.

Syahrir menanggapi ultimatum itu dengan menugasi Syafruddin Prawiranegara dan Jenderal Mayor Didi Kartasasmita hadir ke Bandung.

Jenderal A.H Nasution dan aparat pemerintah RI menolak Ultimatum itu.

Menurut mereka sangat mustahil memindahkan ribuan pasukan dalam waktu singkat.

Mereka lalu menemui Mayor Jenderal Hawthorn dan meminta agar batas Ultimatum diperpanjang.

Sementara itu, pihak Sekutu terus menyebarkan pamflet berisi tentang berita Ultimatum tersebut.

Sore hari pada tanggal 23 Maret 1946, Nasution ikut ke Jakarta bersama Syafruddin dan Didi Kartasasmita untuk menemui Perdana Menteri Syahrir.

Syahrir lalu mendesak Nasution agar memenuhi Ultimatum tersebut, dengan alasan menyelamatkan Tentara Republik Indonesia (TRI) dari kehancuran.

Ia berpendapat, TRI belum mampu menandingi kekuatan pasukan Sekutu.

Bandung Lautan Api

Pada pagi hari tanggal 24 Maret 1946, Nasution kembali ke Bandung untuk sekali lagi melakukan negosiasi terkait penundaan pelaksanaan Ultimatum.

Namun, tentara Sekutu tetap pada pendiriannya dan menolak penundaan batas Ultimatum.

Sebaliknya, Nasution juga menolak tawaran Sekutu yang hendak meminjamkan seratus truk untuk membawa pasukan Indonesia ke luar kota.

Hasil pertemuan yang diadakan Nasution dengan para Komandan TRI, pemerintah RI sepakat untuk membumihanguskan Bandung sebelum kota itu ditinggalkan.

Menurut rencana, pembakaran kota akan dilakukan pada tanggal 24 Maret pukul 00.00.

Namun, rencana itu justru dilakukan lebih awal, yaitu pukul 21.00.

Mereka meledakkan Bank Rakyat sebagai gedung pertama yang menjadi target.

Kemudian disusul dengan pembakaran daerah seperti Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegalega.

Sedangkan Anggota TRI membakar sendiri asrama–asrama mereka.

Pembakaran ini bertujuan agar segala fasilitas yang ada di Bandung tidak dapat digunakan lagi oleh Sekutu.

(/Yunita Rahmayanti)

Artikel lain terkait Sejarah Indonesia